Lompat ke isi

X

Dari Mippedia bahasa Indonesia, ensiklopedia umum
X
Huruf kapital 'X' dan huruf kecil 'x' dalam rupa huruf serif.
Huruf kapital 'X' dan huruf kecil 'x' dalam rupa huruf serif.
Karakteristik Huruf
Sistem Penulisan Alfabet Latin
Jenis Karakter Huruf konsonan
Sejarah asal Hieroglif Mesir / Abjad Fenisia (Samekh)
Alfabet Yunani (Xi / Chi)
Pengucapan (IPA) /ks/, /ɡz/, /z/, /z/
Urutan Abjad Ke-24
Huruf Terkait Samekh (Fenisia)
Xi & Chi (Yunani)
Ha (Kiril)
Kode Karakter (Unicode)
Huruf Kapital U+0058
Huruf Kecil U+0078

X atau x adalah huruf kedua puluh empat dan huruf konsonan kesembilan belas dalam alfabet Latin dasar ISO. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini secara historis dikenal sebagai konsonan tambahan, namun kini digunakan secara resmi untuk mengeja kata-kata serapan (khususnya istilah ilmiah dan asing), dan dilafalkan sebagai gugus konsonan /ks/ di awal atau tengah kata (seperti pada kata "xenon", "xeroks", dan "taksiku").

Huruf X memiliki status yang sangat ikonik dalam kebudayaan modern, mulai dari lambang universal untuk variabel yang belum diketahui dalam aljabar matematika, tanda silang penanda lokasi (X marks the spot), hingga penanda sensor usia atau rating film dewasa. Dalam ilmu sains, huruf X digunakan sebagai lambang untuk sumbu horizontal dalam koordinat Kartesius.

Akar sejarah huruf X memiliki jalur evolusi yang agak berbeda dibandingkan sebagian besar huruf Latin lainnya yang diturunkan secara langsung dari huruf Samekh atau Shin Fenisia. Bangsa Fenisia awalnya memiliki huruf bernama Samekh yang digambarkan sebagai tiang dengan tiga garis horizontal (yang melambangkan penyangga atau ikan). Huruf ini melambangkan bunyi desis /s/.

Ketika peradaban Yunani kuno mengadopsi sistem tulisan Fenisia, mereka memecah huruf ini menjadi beberapa variasi huruf yang berbeda untuk mengakomodasi struktur fonologi bahasa mereka. Di wilayah Yunani Barat, lambang silang tegak ($+$ atau $\times$) digunakan untuk mewakili bunyi rangkap konsonan /ks/, yang kemudian dinamai huruf Chi ($\text{X}, \text{χ}$). Sementara itu, di Yunani Timur, huruf Xi ($\Xi$) digunakan untuk bunyi /ks/, dan huruf Chi digunakan untuk bunyi /kh/.

Peradaban Etruska dan Romawi kuno mengadopsi alfabet dari varian Yunani Barat. Bangsa Romawi mengambil bentuk tanda silang ($\times$) tersebut dan memasukkannya secara utuh ke dalam abjad bahasa Latin klasik untuk mewakili bunyi rangkap konsonan /ks/ secara efisien dengan satu huruf tunggal, dan menamainya X. Sejak saat itu, wujud huruf X praktis tidak mengalami perubahan struktural yang berarti.

Tipografi

[sunting | sunting sumber]

Bentuk majuskula (kapital) "X" dan minuskula (kecil) "x" memiliki desain geometris yang identik, hanya dibedakan oleh skala ukuran dan penempatannya. Huruf X terdiri dari dua garis diagonal lurus yang saling berpotongan di bagian tengah membentuk sudut silang yang simetris.

Pada rupa huruf gaya serif klasik, ketebalan garis diagonal pada huruf X biasanya dibuat tidak seragam untuk menciptakan ilusi optik yang seimbang; garis diagonal yang turun dari kiri atas ke kanan bawah sering kali dibuat sedikit lebih tipis atau lebih tebal dibanding garis silangnya, tergantung pada gaya rancangan sang tipografer.

Penggunaan

[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa

[sunting | sunting sumber]
  • Bahasa Indonesia: Huruf X digunakan secara konsisten sebagai konsonan rangkap /ks/. Jika ia terletak di awal kata, pelafalannya sering kali melunak menjadi bunyi /s/ (contoh: "xenon" dilafalkan "senon"). Di tengah atau akhir kata, ia diucapkan tegas sebagai /ks/ (contoh: "kompleks", "taksir").
  • Bahasa Inggris: Pelafalan huruf X sangat dipengaruhi oleh posisi dan etimologi kata:
    • Dilafalkan sebagai /ks/ di akhir kata atau sebelum huruf konsonan (seperti box, extra).
    • Dilafalkan sebagai bunyi bersuara /ɡz/ apabila ia berada di antara dua huruf vokal dan suku kata kedua mendapat tekanan (stres), contohnya pada kata exam, exist, dan exact.
    • Dilafalkan sebagai bunyi desis /z/ apabila ia berada di posisi paling awal sebuah kata (seperti xylophone, xenophobia).
  • Bahasa Spanyol: Huruf X memiliki aturan pelafalan khusus. Dalam nama-nama tempat atau nama diri kuno (seperti *México* atau *Oaxaca*), huruf X dilafalkan sebagai konsonan desis langit-langit belakang /x/ (mirip bunyi huruf "Kh" atau "H" parau), akibat pergeseran fonetik historis bahasa Spanyol kuno.

Dalam berbagai bidang teknis

[sunting | sunting sumber]
  • Matematika dan Aljabar: Huruf $x$ kecil (dicetak miring) adalah lambang universal yang paling legendaris untuk merepresentasikan **Variabel atau peubah** yang nilainya belum diketahui (tidak diketahui), sebuah tradisi yang dipopulerkan oleh matematikawan René Descartes.
  • Geometri dan Grafik: Huruf $X$ kapital digunakan sebagai lambang standar untuk **Sumbu horizontal** (sumbu-$x$) pada sistem Koordinat Kartesius dua dimensi.
  • Ilmu Kimia: Xe (gabungan X dan e) adalah lambang unsur kimia untuk gas mulia **Xenon**. Dalam kimia organik, huruf X sering digunakan sebagai simbol universal untuk merepresentasikan unsur gugus Halogen apa pun.
  • Fisika dan Kedokteran:
    • Sinar-X (*X-rays*) dinamai demikian oleh Wilhelm Röntgen karena sifat radiasinya pada awal penemuannya masih merupakan misteri yang belum diketahui (*unknown variable*).
  • Budaya Pop dan Penamaan: Huruf X sering diasosiasikan dengan misteri, masa depan, atau batas ekstrem (contoh: *Generation X*, *SpaceX*, *X-Men*, atau penanda tanda tangan "X" bagi orang yang buta huruf).

Kode komputasi

[sunting | sunting sumber]
Karakter X x
Nama Unicode LATIN CAPITAL LETTER X LATIN SMALL LETTER X
Pengodean desimal heksadesimal desimal heksadesimal
Unicode 88 U+0058 120 U+0078
UTF-8 88 58 120 78
Karakter referensi numerik X X x x
Keluarga EBCDIC 231 E7 167 A7
ASCII 88 58 120 78

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]