Lompat ke isi

Februari: Perbedaan antara revisi

Dari Mippedia bahasa Indonesia, ensiklopedia umum
←Membuat halaman berisi '{{Infobox bulan | Nama = Februari | image = Les Très Riches Heures du duc de Berry février.jpg | image_caption = Ilustrasi Februari dari kalender ''Les Très Riches Heures du duc de Berry'' (sekitar abad ke-15). | Urutan = 2 (Kedua) | Jumlah_hari = 28 (29 pada tahun kabisat) | Bulan_sebelumnya = Januari | Bulan_selanjutnya = Maret | Penamaan = ''Februa'', festival purifikasi dan penyuci...'
Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
 
Mippedia Neural Engine V12: NeuralRelated
Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Baris 65: Baris 65:
[[Kategori:Waktu]]
[[Kategori:Waktu]]
[[Kategori:Kalender Gregorian]]
[[Kategori:Kalender Gregorian]]
{{#related: Agustus}}
{{#related: Akuarius}}
{{#related: Belahan Bumi Selatan}}

Revisi per 6 September 2026 00.14

Februari
Ilustrasi Februari dari kalender Les Très Riches Heures du duc de Berry (sekitar abad ke-15).
Ilustrasi Februari dari kalender Les Très Riches Heures du duc de Berry (sekitar abad ke-15).
Karakteristik Kalender
Bulan ke- 2 (Kedua)
Jumlah hari 28 (29 pada tahun kabisat)
Sebelumnya Januari
Selanjutnya Maret
Detail Lainnya
Dinamai berdasarkan Februa, festival purifikasi dan penyucian Romawi kuno
Musim (B. Utara) Musim dingin
Musim (B. Selatan) Musim panas
Simbolisme Astrologi
Zodiak Akuarius (hingga 18 Feb)
Pises (sejak 19 Feb)
Batu kelahiran Kecubung (Amethyst)
Bunga Violet dan Primrose

Februari adalah bulan kedua dalam kalender Julian dan kalender Gregorian. Bulan ini merupakan bulan terpendek dalam setahun dan satu-satunya bulan yang memiliki kurang dari 30 hari. Pada tahun biasa, Februari memiliki 28 hari, sedangkan pada tahun kabisat (yang terjadi umumnya setiap empat tahun sekali), bulan ini memiliki 29 hari.

Nama bulan ini diserap dari bahasa Belanda, februari, yang berasal dari bahasa Latin klasik, Februarius. Nama tersebut merujuk pada Februa, yaitu sebuah festival purifikasi atau penyucian tradisional Romawi kuno yang diselenggarakan pada tanggal 15 Februari (saat bulan purnama di kalender Romawi lama).

Secara meteorologis, Februari merupakan bulan terakhir dari musim dingin di Belahan Bumi Utara, dan bulan terakhir dari musim panas di Belahan Bumi Selatan. Di Belahan Bumi Selatan, Februari setara dengan bulan Agustus di Belahan Bumi Utara dalam hal pergerakan musim.

Sejarah

Kalender Romawi

Sama halnya dengan bulan Januari, Februari tidak ada dalam kalender awal Romawi (kalender Romulus) yang hanya terdiri dari 10 bulan dan 304 hari, karena orang Romawi kuno menganggap periode musim dingin sebagai waktu yang tidak memiliki nama dan tidak dihitung dalam kalender.

Pada sekitar tahun 713 SM, raja kedua Roma, Numa Pompilius, mereformasi kalender tersebut dengan menambahkan bulan Januari dan Februari agar kalender selaras dengan tahun kamariah (lunar) yang berdurasi sekitar 354 hari. Pada awalnya, Februari ditempatkan sebagai bulan terakhir dalam satu tahun kalender, setelah Desember. Namun, seiring berjalannya waktu dan berbagai penyesuaian politik, awal tahun bergeser ke 1 Januari, menjadikan Februari sebagai bulan kedua seperti yang kita kenal sekarang.

Pada masa Republik Romawi, penambahan hari sisipan (interkalari) sering kali disisipkan di dalam bulan Februari (biasanya setelah tanggal 23 atau 24 Februari) untuk menyelaraskan kalender Romawi dengan pergerakan matahari. Praktik ini sering kali dimanipulasi secara politik oleh para pendeta Romawi (pontifex) untuk memperpanjang atau memperpendek masa jabatan pejabat tertentu.

Reformasi Julian

Ketika Julius Caesar melakukan reformasi besar-besaran dan memperkenalkan kalender Julian pada tahun 45 SM, ia menghapus bulan-bulan interkalari yang membingungkan tersebut. Caesar menetapkan aturan yang lebih teratur, di mana Februari diberikan 28 hari pada tahun-tahun biasa, dan satu hari tambahan ditambahkan setiap empat tahun (tahun kabisat) untuk menjaga agar kalender tetap sinkron dengan tahun tropis (pergerakan bumi mengelilingi matahari).

Karakteristik astronomi dan kalender

Karena memiliki tepat 28 hari pada tahun biasa, Februari sering kali berulang dengan pola hari yang sangat persis. Pada tahun biasa, Februari selalu dimulai pada hari yang sama dengan bulan Maret dan November. Pada tahun kabisat, Februari dimulai pada hari yang sama dengan bulan Agustus.

Pada tahun biasa, Februari juga selalu berakhir pada hari yang sama dengan bulan Oktober. Sementara pada tahun kabisat, hari terakhir bulan Februari jatuh pada hari yang sama dengan akhir bulan Agustus.

Simbolisme

Berikut adalah beberapa identitas simbolis yang secara historis maupun kultural dikaitkan dengan bulan Februari:

  • Batu kelahiran: Batu kelahiran untuk bulan ini adalah Kecubung (Amethyst), varietas kuarsa berwarna ungu yang secara tradisional melambangkan kesalehan, kerendahan hati, kebijaksanaan spiritual, dan ketulusan.
  • Bunga kelahiran: Bunga yang dikaitkan dengan bulan ini adalah Violet (menandakan kesetiaan dan kehati-hatian) serta Primrose (melambangkan keberanian dan cinta masa muda).
  • Zodiak: Dalam astrologi Barat, zodiak di bulan ini adalah Akuarius (Pembawa Air) dari tanggal 1 hingga 18 Februari, dan Pises (Ikan) dari tanggal 19 Februari hingga akhir bulan. Batas tanggal ini dapat bervariasi satu hari tergantung pada waktu titik balik matahari tahunan.

Perayaan dan Hari Libur

Berbagai perayaan penting berskala nasional dan internasional yang berlangsung di bulan Februari meliputi:

  • 2 Februari: Groundhog Day (Hari Marmot Tanah) yang dirayakan di Amerika Serikat dan Kanada.
  • 14 Februari: Hari Valentine (Hari Kasih Sayang), perayaan sekuler dan kultural yang dirayakan di berbagai belahan dunia.
  • 29 Februari: Hari Kabisat, sebuah hari tambahan yang hanya terjadi pada tahun kabisat. Orang yang lahir pada hari ini sering disebut sebagai leapling.
  • Pertengahan Februari: Tahun Baru Imlek sering kali jatuh pada bulan Februari (meskipun kadang-kadang juga jatuh pada akhir Januari, tergantung pada kalender lunisolar tradisional Tiongkok).

Lihat pula

Referensi