Lompat ke isi

Bahasa Indonesia: Perbedaan antara revisi

Dari Mippedia bahasa Indonesia, ensiklopedia umum
k 🤖 Sync metadata: Bahasa nasional dan resmi di Republik Indonesia
Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Tidak ada ringkasan suntingan
Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Baris 1: Baris 1:
{{SHORTDESC:Bahasa nasional dan resmi di Republik Indonesia}}
{{SHORTDESC:Bahasa nasional dan resmi di Republik Indonesia}}  
{{Infobox bahasa Indonesia
{{Infobox bahasa Indonesia
| nama = Bahasa Indonesia
| nama = Bahasa Indonesia

Revisi per 5 September 2026 15.22

Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
Dituturkan di Indonesia, Timor Leste, kawasan perbatasan Malaysia dan Singapura
Wilayah Asia Tenggara
Penutur ibu 43 juta (2020)
Penutur kedua 155 juta+ (2020)
Klasifikasi
Austronesia
Melayu-Polinesia
    └ Melayik
        └ Bahasa Melayu
            └ Bahasa Indonesia
Sistem penulisan Alfabet Latin (resmi), Jawi (historis), Pegon (historis)
Status Resmi
Status resmi Indonesia (sebagai bahasa resmi dan nasional)
Diatur oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kode Bahasa
ISO 639-1 id
ISO 639-2 ind
ISO 639-3 ind
Glottolog indo1316

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa resmi di seluruh wilayah Republik Indonesia. Secara linguistik, bahasa Indonesia adalah varietas yang distandardisasi dari bahasa Melayu, sebuah bahasa dari rumpun bahasa Austronesia yang telah digunakan sebagai lingua franca di Kepulauan Nusantara selama berabad-abad.

Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, bersamaan dengan berlakunya konstitusi. Sebelumnya, bahasa ini mendapatkan momentum kebangkitan politik saat Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, di mana para pemuda mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Saat ini, bahasa Indonesia dituturkan oleh lebih dari 198 juta orang, menjadikannya salah satu bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia, baik sebagai bahasa ibu maupun sebagai bahasa kedua.

Sejarah

Era Kerajaan dan Melayu Kuno

Sejarah bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang telah berabad-abad digunakan sebagai bahasa perhubungan antarpulau di Nusantara. Bukti tertulis paling awal mengenai penggunaan bahasa Melayu (dikenal sebagai bahasa Melayu Kuno) ditemukan pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7, seperti Prasasti Kedukan Bukit di Palembang dan Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka. Sriwijaya, yang merupakan pusat perdagangan dan agama Buddha, menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa pengantar di bandar-bandar pelabuhan, baik untuk kepentingan berniaga maupun keagamaan.

Pengaruh Islam dan Melayu Klasik

Masuknya agama Islam ke Nusantara membawa perubahan besar, termasuk transisi dari bahasa Melayu Kuno ke bahasa Melayu Klasik. Bahasa ini mulai ditulis dengan menggunakan huruf Jawi (abjad Arab yang disesuaikan) dan menyerap banyak kosakata dari bahasa Arab dan bahasa Persia. Pusat-pusat kesultanan seperti Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, dan Kesultanan Aceh berperan penting dalam menyebarkan bahasa Melayu beraksara Jawi sebagai bahasa kesusastraan dan diplomasi.

Masa Kolonial Belanda

Pada masa penjajahan, pemerintah Hindia Belanda menyadari bahwa bahasa Belanda terlalu sulit untuk diajarkan kepada seluruh penduduk bumiputra. Oleh karena itu, mereka mulai menggunakan bahasa Melayu standar yang bersumber dari dialek Riau-Johor (Melayu Tinggi) untuk keperluan administrasi dan pendidikan dasar. Pada tahun 1901, pemerintah Belanda menetapkan ejaan resmi bahasa Melayu menggunakan alfabet Latin yang disusun oleh Ch. A. van Ophuijsen. Pada tahun 1908, pemerintah mendirikan lembaga penerbitan buku bacaan bernama Commissie voor de Volkslectuur (yang kelak menjadi Balai Pustaka), yang semakin menyebarluaskan penggunaan bahasa Melayu Tinggi.

Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan

Kebangkitan nasional mencapai puncaknya pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Dalam ikrar Sumpah Pemuda, para tokoh pergerakan dari berbagai suku bangsa sepakat untuk mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan dengan nama "Bahasa Indonesia". Penggantian nama ini memiliki makna politis yang sangat kuat untuk menumbuhkan sentimen nasionalisme dan menentang imperialisme Belanda. Setelah kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Pasal 36 UUD 1945 secara resmi menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

Tata Bahasa

Secara morfologis, bahasa Indonesia merupakan bahasa aglutinatif, yang berarti bentuk kata diubah dan diperluas dengan menambahkan imbuhan (afiks) pada kata dasar.

Afiksasi

Pembentukan kata sangat mengandalkan sistem imbuhan yang terdiri dari awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), serta gabungan imbuhan (konfiks).

  • Prefiks: me-, di-, pe-, ter-, ke-, ber-, se-
  • Sufiks: -kan, -i, -an, -nya
  • Konfiks: ke-...-an, pe-...-an, per-...-an

Sebagai contoh, kata dasar "tulis" dapat berubah menjadi menulis, ditulis, tulisan, penulis, dan penulisan dengan makna yang berbeda-beda.

Ketiadaan Kala, Gender, dan Pluralitas Infleksional

Berbeda dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa, tata bahasa Indonesia tidak mengenal kala (tense), perbedaan gender (gender), maupun perubahan kata kerja berdasarkan subjek.

  • Kala: Waktu kejadian ditunjukkan dengan menggunakan kata keterangan waktu seperti sedang, sudah, akan, kemarin, atau besok.
  • Jamak: Pluralitas tidak mengubah struktur kata benda dengan akhiran (seperti penambahan -s dalam bahasa Inggris), melainkan ditunjukkan dengan pengulangan kata dasar (reduplikasi), misalnya buku-buku, atau dengan penambahan kata bilangan seperti beberapa buku atau tiga buku.

Fonologi

Bahasa Indonesia memiliki 6 vokal murni (a, i, u, e, o, dan schwa ə) serta tiga diftong (ai, au, oi). Sistem konsonannya terdiri dari 21 fonem asli dan beberapa konsonan serapan dari bahasa asing (seperti f, v, z, sy, kh). Ortografi bahasa Indonesia sangat fonemik, yang berarti setiap huruf Latin hampir selalu dilafalkan persis seperti penulisannya.

Kosakata dan Kata Serapan

Selama berabad-abad menjadi bahasa perhubungan, bahasa Indonesia telah menyerap banyak kosakata dari berbagai bahasa daerah dan bahasa asing, yang memperkaya perbendaharaan katanya. Sumber kata serapan terbesar meliputi:

  • Bahasa Sanskerta: Banyak menyerap konsep agama, budaya, dan intelektual kuno (misal: agama, bahasa, surga, neraka, budi, negara).
  • Bahasa Arab: Diserap sejak masuknya Islam, berkaitan dengan agama, hukum, dan ilmu pengetahuan (misal: masjid, hakim, waktu, ilmu, hukum, akal).
  • Bahasa Belanda: Menyumbang ribuan kosakata modern terkait administrasi, teknologi, dan gaya hidup Eropa akibat 350 tahun penjajahan (misal: kantor, polisi, sepeda, gratis, buku, administrasi).
  • Bahasa Portugis: Diserap pada era perdagangan abad ke-16 (misal: meja, jendela, sepatu, bendera, gereja).
  • Bahasa Tionghoa: Terutama dialek Hokkien, terkait perdagangan dan makanan (misal: tahu, bakmi, teko, loteng, kongsi).
  • Bahasa Inggris: Menjadi sumber serapan utama pada era modern pascakemerdekaan, terutama di bidang teknologi, sains, dan budaya populer (misal: komputer, internet, roket, desain).
  • Bahasa Daerah: Terutama bahasa Jawa, bahasa Minangkabau, dan bahasa Sunda yang menyumbang kata-kata sifat, emosi, dan budaya lokal.

Sistem Penulisan

Sistem penulisan resmi untuk bahasa Indonesia saat ini menggunakan 26 huruf dalam alfabet Latin standar. Sejak era kolonial, ejaan bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali penyempurnaan resmi:

  1. Ejaan van Ophuijsen (1901–1947): Dipengaruhi ortografi Belanda (menggunakan huruf j untuk bunyi [y], oe untuk bunyi [u], dan dj untuk [j]).
  2. Ejaan Republik / Ejaan Soewandi (1947–1972): Huruf oe diubah menjadi u, dan kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 (misal: buku2).
  3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) (1972–2015, 2022–sekarang): Menyeragamkan ejaan dengan negara tetangga Malaysia. Huruf tj menjadi c, dj menjadi j, j menjadi y, dan ch menjadi kh. Sempat berganti nama menjadi PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) pada 2015–2022 sebelum kembali ke nama EYD Edisi V.

Lihat Pula

Referensi

  • Sneddon, James N. The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. University of New South Wales Press, 2003.
  • Moeliono, Anton M., dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, 1988.
  • Collins, James T. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat. Yayasan Obor Indonesia, 2005.