Batu Rosetta
|
Batu Rosetta dipamerkan di British Museum, London.
|
|
| Karakteristik Fisik | |
|---|---|
| Jenis | Stele |
| Material | Granodiorit |
| Ukuran | Tinggi: 112,3 cm Lebar: 75,7 cm Tebal: 28,4 cm |
| Berat | Sekitar 760 kg |
| Latar Belakang Budaya | |
| Dibuat | 196 SM (Periode Kerajaan Ptolemaik) |
| Budaya / Peradaban | Mesir Kuno / Helenistik |
| Aksara / Teks | Hieroglif Mesir, Demotik, dan Yunani Kuno |
| Penemuan dan Lokasi | |
| Penemu | Pierre-François Bouchard |
| Waktu ditemukan | 15 Juli 1799 |
| Lokasi penemuan | Fort Julien, Rosetta (Rashid), Mesir |
| Lokasi saat ini | British Museum, London, Britania Raya |
Batu Rosetta adalah sebuah stele terbuat dari batu granodiorit yang ditemukan pada tahun 1799. Batu ini memuat sebuah dekret yang dikeluarkan di Memphis pada tahun 196 SM atas nama Raja Ptolemaios V Epiphanes dari Kerajaan Ptolemaik. Dekret ini ditulis dalam tiga jenis aksara: bagian atas ditulis dalam hieroglif Mesir, bagian tengah dalam aksara Demotik, dan bagian bawah dalam bahasa Yunani Kuno. Karena menyajikan teks yang pada dasarnya sama dalam ketiga aksara tersebut (meskipun dengan beberapa perbedaan kecil), Batu Rosetta menjadi kunci utama bagi pemahaman modern terhadap literatur Mesir Kuno dan pemicu utama dalam proses penguraian hieroglif.
Batu ini diyakini pada awalnya dipajang di dalam sebuah kuil di Mesir, kemungkinan besar di dekat Sais. Stele ini kemudian dipindahkan pada masa Abad Pertengahan atau awal periode modern dan akhirnya digunakan sebagai bahan bangunan dalam konstruksi Fort Julien (sebuah benteng pertahanan) di dekat kota Rosetta (kini dikenal dengan nama Rashid) di kawasan Delta Nil.
Deskripsi fisik
Batu Rosetta diklasifikasikan sebagai peninggalan bersejarah yang terbuat dari granodiorit, sebuah batuan beku yang sering disalahartikan sebagai basal pada masa-masa awal penemuannya. Batu ini memiliki ukuran tinggi sekitar 112,3 sentimeter, lebar 75,7 sentimeter, dan ketebalan 28,4 sentimeter, dengan berat yang diperkirakan mencapai 760 kilogram.
Batu ini tidak utuh; bagian atas dan sudut-sudutnya telah pecah dan hilang. Oleh karena itu, teks hieroglif di bagian atas adalah yang paling tidak lengkap. Hanya 14 baris teks hieroglif yang tersisa, semuanya kehilangan sebagian karakter di sisi kanan atau kiri. Teks Demotik di bagian tengah kondisinya jauh lebih baik, terdiri dari 32 baris yang sebagian besar utuh. Teks Yunani di bagian bawah berisi 54 baris, di mana 27 baris pertama bertahan secara penuh dan sisanya terfragmentasi di bagian sudut kanan bawah.
Dekret Memphis
Teks yang terukir pada batu ini adalah salinan dari Dekret Memphis, sebuah proklamasi yang diterbitkan pada tahun 196 SM oleh dewan pendeta Mesir. Dekret ini menandai ulang tahun pertama penobatan Ptolemaios V yang saat itu masih kanak-kanak. Teks tersebut merinci penganugerahan status keilahian kepada sang raja muda, pembebasan pajak untuk kuil-kuil, serta janji-janji kesejahteraan bagi para pendeta dan rakyat Mesir.
Penggunaan tiga aksara mencerminkan realitas politik dan sosial Mesir pada masa itu. Hieroglif digunakan sebagai bahasa sakral untuk dokumen-dokumen resmi para dewa dan kuil; Demotik adalah aksara sehari-hari penduduk asli Mesir; sedangkan bahasa Yunani adalah bahasa resmi administrasi pemerintahan Dinasti Ptolemaik yang berasal dari kawasan Makedonia.
Penemuan
Batu ini ditemukan pada masa kampanye militer Napoleon Bonaparte ke Mesir. Pada tanggal 15 Juli 1799, sepasukan tentara Prancis di bawah komando Kapten Pierre-François Bouchard sedang melakukan pekerjaan perbaikan di Fort Julien, sebuah benteng dekat kota pelabuhan Rosetta. Bouchard menyadari keberadaan sebuah batu hitam yang tertanam di dinding reruntuhan dengan ukiran tulisan yang tampak kuno.
Menyadari potensi pentingnya benda tersebut, Bouchard segera melaporkannya kepada Jenderal Jacques-François Menou. Batu tersebut kemudian dibawa ke Kairo untuk diteliti oleh Institut d'Égypte, sebuah lembaga ilmiah yang didirikan oleh Napoleon. Para ilmuwan Prancis segera mulai membuat salinan dan cetakan dari teks tersebut untuk dipelajari lebih lanjut di Eropa.
Pemindahan ke Inggris
Setelah kepulangan Napoleon ke Prancis, pasukan Prancis di Mesir terus mengalami kekalahan dari gabungan pasukan Inggris dan Kekaisaran Utsmaniyah. Pada tahun 1801, pasukan Prancis menyerah di Iskandariyah. Berdasarkan ketentuan Kapitulasi Iskandariyah, semua barang antik dan artefak bersejarah yang dikumpulkan oleh pihak Prancis, termasuk Batu Rosetta, harus diserahkan kepada pihak Kerajaan Britania Raya.
Batu Rosetta dibawa ke Inggris pada tahun 1802 menggunakan kapal frigat HMS L'Egyptienne dan tiba di Portsmouth. Atas perintah Raja George III, batu ini kemudian disumbangkan kepada British Museum, di mana batu ini telah dipamerkan secara publik hampir tanpa jeda sejak bulan Juni 1802.
Penguraian hieroglif
Sebelum penemuan Batu Rosetta, pemahaman mengenai hieroglif Mesir telah sepenuhnya hilang sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi. Banyak cendekiawan awal mengira bahwa hieroglif murni merupakan simbol ideografis atau mistis tanpa komponen fonetik (suara).
Proses penguraian dimulai segera setelah salinan teks tersebut menyebar ke Eropa. Pada tahun 1814, seorang polimatik asal Inggris, Thomas Young, mulai mempelajari teks tersebut. Young berhasil mengidentifikasi bahwa cartouche (lingkaran lonjong pelindung nama) dalam teks hieroglif mengandung nama penguasa asing, yaitu "Ptolemaios", yang dieja secara fonetik.
Terobosan paling komprehensif dicapai oleh pakar filologi Prancis, Jean-François Champollion, pada tahun 1822. Dengan membandingkan bahasa Koptik (keturunan bahasa Mesir Kuno) dengan teks di Batu Rosetta dan artefak lainnya, Champollion membuktikan bahwa hieroglif Mesir adalah sistem penulisan yang kompleks—kombinasi antara tanda fonetik dan ideografik. Temuan Champollion ini diterbitkan dalam karyanya yang terkenal, Lettre à M. Dacier, yang secara resmi melahirkan disiplin ilmu Egiptologi modern.
Referensi
Pranala luar
- Batu Rosetta di situs web resmi British Museum.
